KEMBALI KE ARTICLES

Dari Balai Desa ke Panggung Festival: The Jeblogs Membawa Kegelisahan Anak Muda ke Projek-D

02 Sep 2026 Naila Ananda Isnaini 349 Views ARTIKEL
Ada sesuatu yang menarik dari nama The Jeblogs. Tidak lahir dari sebuah kota besar, tidak pula terdengar seperti nama yang sengaja dirancang untuk mengejar citra modern sebuah band. The Jeblogs mengambil nama itu dari tempat mereka berasal yaitu Desa Jeblog, Klaten, Jawa Tengah. Nama tersebut kemudian menjadi semacam penanda perjalanan. Dari sebuah
perkumpulan pemuda karang taruna, lima orang membentuk band pada 2016. Bertahun-tahun kemudian, nama yang berangkat dari ruang komunitas desa itu justru muncul di berbagai panggung musik dan kini tercantum sebagai salah satu penampil Projek-D Vol. 5 di De Tjolomadoe, Karanganyar, 5 September 2026 mendatang.

Perjalanan tersebut menarik bukan semata karena kisah “anak desa yang berhasil naik panggung besar”. Narasi semacam itu terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah bagaimana The Jeblogs memperlihatkan bahwa ekosistem musik tidak selalu harus bermula dari pusat kota, ruang industri, atau institusi musik. Kadang ia tumbuh dari tempat yang lebih sederhana seperti perkumpulan anak muda yang bertemu, bermain musik, lalu memutuskan untuk terus berjalan.

The Jeblogs terbentuk dari Karang Taruna Galur Manggala, Desa Jeblog. Amir M berada di posisi vokal, Valentino Mahoni dan Febrianto Prima memainkan gitar, Ryan Ramadhan pada bass serta Dani Ardian di drum. Formasi tersebut kemudian membawa mereka memainkan rock dengan spektrum yang cukup luas, sementara kehidupan anak muda menjadi salah satu benang merah dalam karya mereka.

Dari sana, perjalanan mereka berlangsung secara bertahap. Single “Berantakan” menjadi titik awal pada 2016, disusul EP The Jeblogs pada 2018, sejumlah single, hingga album penuh Sambutlah yang dirilis pada 22 Desember 2023. Album tersebut berisi delapan lagu dengan durasi sekitar 33 menit.

Di sisi lain, terdapat karakter yang membuat musik mereka terasa dekat dengan pendengarnya. Dalam tulisan RRI pada 2024, The Jeblogs digambarkan memainkan rock yang relatif ramah didengar dengan lirik mengenai kehidupan anak muda. Kekuatan mereka tidak berhenti pada distorsi gitar atau gebukan drum, tetapi juga pada lirik yang relatif mudah diingat dan diteriakkan bersama.

Dari sini, ada hal yang menarik untuk di ulas. Rock seringkali dibayangkan sebagai musik yang harus keras, liar, dan berjarak. The Jeblogs justru mengambil keresahan yang lebih relate. Mereka berbicara mengenai lelah, kegelisahan, harapan, kemarahan, hingga kebutuhan untuk berhenti sejenak. Keresahan tersebut tidak dikemas menjadi bahasa yang terlalu rumit. Hal itu membuatnya terasa lebih dekat dengan percakapan anak muda.

Album Sambutlah menjadi contoh paling jelas. Delapan lagu di dalamnya bergerak seperti perjalanan emosional. “Menari Resah”, “Bersandarlah”, “Pulang”, “Sambutlah”, “Lautan Api”, “Sebat Dulu”, “Ode Para Sisifus”, dan “Track 8” membentuk satu rangkaian yang memperlihatkan berbagai wajah kehidupan muda. “Bersandarlah” misalnya, menawarkan ruang untuk berhenti di tengah hidup yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Sementara “Pulang” membawa gagasan tentang kembali kepada sesuatu yang lebih sederhana. Setelahnya “Sambutlah” bergerak dengan energi yang lebih terbuka, bukan lagi sekadar menerima keadaan, tetapi mencoba menghadapi hari berikutnya.

Judul Sambutlah sendiri terasa seperti manifesto kecil tentang masa muda. Lagu tersebut membawa gambaran mengenai generasi baru yang sedang berusaha menemukan jalannya. Pesan itu menjadi relevan karena The Jeblogs tidak menyampaikannya dari posisi seseorang yang sudah selesai dengan hidup. Mereka justru berbicara sebagai anak muda kepada anak muda lainnya. Barangkali karena itulah setiap lirik pada lagu-lagu The Jeblogs tidak terkesan menceramahi, tetapi seperti percakapan di antara orang-orang yang sama-sama sedang mencari cara untuk bertahan.

Menariknya, perjalanan itu tidak selalu berhenti pada optimisme. “Lautan Api” membawa energi yang lebih keras, sedangkan “Sebat Dulu” menawarkan jeda setelah kemarahan. Susunan tersebut membuat Sambutlah tidak menjadi album yang sekadar menyuruh pendengarnya untuk selalu berpikir positif. Ada marah, lelah, bingung, dan berhenti di dalamnya. Optimisme datang bukan karena masalah menghilang, melainkan karena seseorang memilih untuk tetap berjalan. Di situlah istilah “anak muda” dalam musik The Jeblogs memperoleh maknanya. Muda bukan sekadar persoalan usia. Muda adalah kondisi ketika seseorang masih berhadapan dengan banyak ketidakpastian, tetapi tetap harus memilih arah.

Nama “Ode Para Sisifus” semakin memperkuat pembacaan tersebut. Sisifus dalam mitologi Yunani dikenal melalui hukuman untuk terus mendorong batu ke atas, hanya untuk melihatnya kembali jatuh. The Jeblogs menggunakan gagasan itu sebagai bagian dari lanskap musik mereka. Hidup bisa berulang, melelahkan, bahkan absurd, tetapi perjalanan tetap harus dijalani. Ini yang membuat The Jeblogs lebih menarik daripada sekadar label “band lokal”.

Mereka memang berasal dari Klaten. Mereka memang terbentuk dari karang taruna. Namun, latar tersebut bukan alasan utama musik mereka layak didengarkan. Justru sebaliknya, musik mereka memiliki alasan untuk melampaui identitas geografis tersebut. Perjalanan mereka juga memperlihatkan bagaimana skena musik bekerja melalui jejaring. RRI mencatat bahwa nama The Jeblogs pernah mendapat perhatian Kunto Aji, sementara vokalis FSTVLST, Farid Stevy, juga menjadi salah satu tokoh yang memberikan perhatian terhadap mereka.

Namun, dukungan dari nama yang lebih besar seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebab, jika The Jeblogs hanya menarik karena pernah direkomendasikan musisi terkenal, maka cerita mereka berhenti pada validasi eksternal. Padahal, yang lebih penting justru apa yang mereka bangun sendiri setelah mendapatkan perhatian tersebut.

Jawabannya dapat dilihat dari keberlanjutan karya dan panggung mereka.
Album Sambutlah menjadi pijakan penting pada 2023. Pada 2024 mereka menjalankan Tur Para Sisifus di sejumlah kota. Setelah itu, aktivitas panggung mereka terus berlanjut. Bahkan pada 2026, sejumlah catatan pertunjukan menunjukkan The Jeblogs masih membawa lagu-lagu dari Sambutlah ke panggung, termasuk “Pulang”, “Lautan Api”, “Sambutlah”, “Sebat Dulu”, “Bersandarlah”, dan “Atas Nama”.

Artinya, The Jeblogs bukan nama yang tiba-tiba muncul di poster Projek-D. Ada proses yang berjalan di belakangnya. Karena itu, kemunculan mereka di Projek-D Vol. 5 menjadi menarik untuk dibaca sebagai kelanjutan perjalanan, bukan sebagai garis akhir. Festival tersebut tahun ini menggunakan format satu hari dengan empat panggung. The Jeblogs masuk dalam jajaran penampil bersama nama-nama seperti Hindia, .Feast, FSTVLST, Down For Life, Rumah Sakit, Nadhif Basalamah, hingga berbagai nama lain dari spektrum musik yang berbeda. Situs resmi Projek-D bahkan mencantumkan penampilan mereka sebagai “The Jeblogs Showcase Set”. Konstelasi tersebut membuat posisi The Jeblogs menjadi menarik.

Di tengah nama-nama yang sudah memiliki basis pendengar besar, mereka datang membawa cerita yang berbeda. Bukan karena mereka harus diposisikan sebagai “underdog”, melainkan karena perjalanan mereka menunjukkan bahwa pusat pertumbuhan musik dapat berada di mana saja. Desa tidak harus selalu menjadi latar cerita tentang keterbatasan. Desa juga bisa menjadi tempat lahirnya suara. Dan Karang Taruna tidak harus selalu dipahami sebatas organisasi kepemudaan yang berkutat pada kegiatan sosial atau perayaan hari kemerdekaan. Dalam kasus The Jeblogs, ruang tersebut menjadi salah satu titik temu yang memungkinkan lima anak muda mengembangkan kegemaran menjadi sesuatu yang lebih serius.

Ini mungkin menjadi salah satu hal paling relevan dari The Jeblogs untuk penonton PROJEK-D. Di tengah industri musik yang semakin dipenuhi algoritma, strategi pemasaran, dan perebutan perhatian di media sosial, cerita The Jeblogs mengingatkan bahwa musik masih dapat tumbuh dari hubungan antarmanusia yang sederhana. Bertemu, bermain, membuat lagu, tampil, mengevaluasi, kemudian mengulanginya lagi. Tidak selalu glamor. Tidak selalu mudah. Namun, justru proses semacam itu yang membuat sebuah band memiliki cerita.

The Jeblogs pun tidak perlu dibebani narasi bahwa mereka harus menjadi representasi seluruh musisi desa Indonesia. Mereka adalah satu contoh, bukan sebuah formula. Keberhasilan mereka juga tidak otomatis berarti semua band yang lahir dari karang taruna akan mendapatkan jalan yang sama. Namun, keberadaan mereka cukup untuk membuka pertanyaan, berapa banyak potensi musik yang sebenarnya tumbuh di ruang-ruang kecil tetapi belum menemukan jalan menuju panggung yang lebih luas?

Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika festival musik semakin berkembang di berbagai kota.
PROJEK-D, dengan keberagaman penampilnya, menjadi salah satu ruang pertemuan antara musisi yang telah memiliki nama besar dan musisi yang terus memperluas jangkauan pendengarnya. Pada penyelenggaraan sebelumnya, The Jeblogs juga pernah mengisi panggung Projek-D Vol. 4 pada 2025. Maka, kedatangan mereka kembali pada edisi kelima bukan sekadar pengulangan. Ada perjalanan yang sudah berubah.

The Jeblogs yang akan muncul di PROJEK-D 2026 bukan lagi band yang baru mencari perhatian. Mereka datang dengan katalog karya yang lebih panjang, pengalaman panggung yang lebih banyak, serta pendengar yang semakin luas. Pada 2025 mereka juga merilis single “Sekian, Terima Kasih”, menandai bahwa perjalanan kreatif mereka terus bergerak setelah Sambutlah.

Lalu, apa yang sebenarnya patut ditunggu dari penampilan mereka?

Bukan sekadar seberapa keras gitar akan berbunyi.

Bukan pula sekadar berapa banyak penonton yang akan ikut bernyanyi.

Yang layak ditunggu adalah bagaimana lagu-lagu yang lahir dari kegelisahan anak muda itu berubah ketika dipindahkan dari headphone dan ruang dengar pribadi ke ruang festival yang diisi ribuan manusia. Sebab musik The Jeblogs memiliki kualitas yang memungkinkan terjadinya pertemuan tersebut. Liriknya cukup dekat untuk dinyanyikan bersama, sementara musiknya memiliki energi yang cukup untuk menggerakkan massa. RRI juga mencatat bahwa “Menari Resah” menjadi salah satu lagu yang dapat memancing penonton mengikuti liriknya ketika dibawakan di panggung.

Mungkin pada akhirnya, kekuatan The Jeblogs bukan terletak pada usaha mereka untuk terlihat besar. Justru sebaliknya. Mereka tumbuh dari sesuatu yang kecil dan membawanya sejauh mungkin. Dari Desa Jeblog menuju berbagai kota. Dari perkumpulan Karang Taruna menuju panggung festival. Dari lagu-lagu yang merekam kegelisahan pribadi menuju nyanyian yang berpotensi menjadi milik banyak orang.

Itulah mengapa penampilan The Jeblogs di Projek-D layak ditunggu bukan karena mereka adalah “band desa yang berhasil masuk festival”, tetapi karena mereka memperlihatkan sesuatu yang lebih penting, yaitu, musik tidak mengenal satu pintu masuk. Kadang-kadang, pintu itu adalah studio profesional. Kadang-kadang, panggung komunitas. Dan kadang-kadang, sebuah ruang sederhana tempat anak-anak muda berkumpul setelah kegiatan desa selesai, membawa instrumen, lalu memutuskan untuk memainkan musik bersama.

Dari tempat seperti itulah The Jeblogs bermula.

Kini, suara mereka akan kembali dibawa ke panggung yang lebih besar. Dan mungkin, di antara riuh festival dan ribuan suara yang saling bertumpuk, akan terdengar satu pengingat sederhana bahwa untuk membuat musik yang sampai kepada banyak orang, seseorang tidak harus terlebih dahulu datang dari tempat yang besar. 

Ia hanya perlu memiliki sesuatu untuk disampaikan, lalu cukup berani untuk terus memainkannya.