KEMBALI KE ARTICLES

John Kalahan: Memaknai Kekalahan Di Tengah Kompetisi Ala Barmy Blokes

02 Sep 2026 Muhammad Fatih Taqiudin 79 Views ARTIKEL
Di kehidupan yang seringkali tidak menemukan ujung, di saat doa yang telah dipanjatkan dan diupayakan tidak menemukan jalan. Ketika jalan yang telah dilewati dan sering dilalui tidak kunjung menemukan arti, dan di saat arti yang telah diniscaya tidak menemukan makna, Barmy Blokes hadir menciptakan bait-bait lirik tentang bagaimana memaknai kekalahan dalam kehidupan yang berjudul "John Kalahan". Barmy Blokes merupakan unit garage rock entut berut yang berdiri pada tahun 2015 dan berasal dari kota Surakarta. Gaya bernyanyi ala country yang dibelokkan ke realitas jalanan Solo, kuartet pander, overdrive banal, dan tarian ora jelas tapi terasa seperti ledakan, mungkin sedikit menggambarkan tentang Barmy Blokes. Dilansir dari wawancara mereka dengan Leluasa, pengambilan nama Barmy Blokes terinspirasi dari budaya Inggris dan tontonan film-film Inggris, kemudian mengulik bahasa slang Inggris dan mendeklarasikan nama Barmy Blokes menjadi nama band mereka karena cocok dengan tabiatnya sebagai laki-laki yang bodoh ataupun gila.

Barmy Blokes telah merilis album yang berjudul "Blong" pada tahun 2026 yang berisi 11 lagu dengan gaya ala country mereka. "John Kalahan" salah satu lagu yang ada di album mereka, awalnya rilis sebagai single pada 11 Mei 2025 bersamaan dengan single yang berjudul "Dansa Terakhir", kemudian tergabung dalam album "Blong" mereka. Single "John Kalahan" terinspirasi dari John Callahan, seorang karikaturis lumpuh dan pecandu alkohol yang berjalan dengan kursi roda karena kecelakaan mobil yang fatal. John Michael Callahan lahir pada 5 Februari 1951. Selain terkenal sebagai karikaturis, Callahan juga dikenal sebagai seniman dan penulis asal Amerika Serikat yang terkenal karena gaya humor gelap, tidak sopan, dan kontroversial. Karyanya seperti kartun-kartun Callahan yang mengangkat tema disabilitas termasuk salah satu yang paling kontroversial, yaitu ketika instruktur di kelas aerobik untuk penderita quadriplegia (kondisi ketika seseorang mengalami kelumpuhan dari leher ke bawah) berkata, "Oke, let's get those eyeballs moving." Hal ini memicu perdebatan luas: sebagian memuji keberaniannya karena menampilkan realitas disabilitas dengan jenaka, namun sebagian lainnya menganggapnya terlalu berlebihan.

Sebagai pecandu alkohol dan seorang seniman, John Callahan sering mendapatkan surat kebencian. Alih-alih membuatnya patah semangat, Callahan justru menempelkan surat-surat tersebut di sebuah papan di dapurnya karena Callahan percaya surat itu bukan berasal dari orang-orang yang benar-benar kagum dengan dirinya. Dari seorang pecandu alkohol yang lumpuh total akibat kecelakaan, kemudian bangkit menjadi seniman karikatur yang kerap mendapatkan cemooh dari orang-orang, tapi tetap berdiri tegak dengan semangat yang tidak pernah goyah. Callahan tidak pernah menang menurut ukuran dunia, tapi dia juga tidak pernah berhenti berdiri, dengan caranya sendiri. Sosok tersebut menginspirasi Barmy Blokes dalam menulis lagu "John Kalahan". Lagu yang berdurasi 3 menit 29 detik ini menceritakan sudut pandang seseorang yang tidak peduli akan kompetisi busuk yang memaksa untuk terus bersaing. Lagu ini memaknai kekalahan dalam persaingan yang tidak pernah berujung, namun tetap berjuang bersama para tersingkir dalam mengubah takdir.

Aku terkikis habis Di atas lintasan bengis Tak mampu melaju kencang Tertinggal tersalip sang pemenang
Lagu ini diawali dengan kalimat "Aku terkikis habis", bukan minta dikasihani, bukan juga lelah, tapi karena habis tergerus. Jalur yang seharusnya menjadi ajang berlomba secara sehat berubah menjadi lintasan bengis karena sistem yang dianggap adil itu. Baris ketiga dan keempat menegaskan posisi kalah, tersalip, di belakang. Apresiasi setinggi-tingginya karena ini bentuk pengakuan tanpa rasa malu — memberikan fakta kalah cepat dari yang lain, tapi kejujuran ini tidak butuh validasi dari siapapun.

Si cepat melesat rakus Coba menyusul si ambisius Mereka saling kebut-kebutan Tapi aku melemah tenang
Kritik sosial mulai terlihat ketika kata "rakus" dan "ambisius" bukan dijadikan sebuah pujian, melainkan bentuk sarkasme. Pemenang yang digambarkan bukan sebagai seorang pahlawan, tapi sebagai orang yang saling salip, saling sikut, menjatuhkan demi standar pencapaian yang mereka percaya. Konteks "melemah tenang" bukan berarti lemah lalu tumbang, melainkan bentuk kekalahan yang dijalani tanpa kepanikan, sementara yang di depan justru terjebak dalam kecemasan mengejar posisi yang mereka anggap ideal.

Lambatkan aku hingga paling belakang Pasti kan' kalah aku tak peduli menang Hargai aku serendah binatang Aku kan' kalah aku tak peduli menang
"Lambatkan aku hingga paling belakang" merupakan sebuah permintaan, bukan karena kalah dengan keadaan, tapi soal menentukan laju dirinya sendiri walaupun berada paling belakang. Meminta dihargai serendah binatang bukan sebuah penghinaan, melainkan bentuk sindiran kepada dunia yang terus saja mempermalukan dan kepada standar pencapaian yang dibuat oleh "sang pemenang".

Aku memilih jalan yang sepi Tak dijejali busuk kompetisi Tak perlu melaju kencang Aku melambat aku kan' terbang
Memilih jalan yang sepi menegaskan bahwa kekalahan yang terjadi bukan soal nasib ataupun menolak untuk ikut serta, melainkan persoalan keputusan, karena sedari awal kompetisi yang dibentuk telah membusuk dan bisa dibilang tidak sehat. Melambat dan terbang, berhenti mengejar standar orang lain, justru menjadi ruang untuk tumbuh, untuk berkembang, dan untuk bebas. Kalah di lintasan horizontal, melesat jauh di jalur vertikal.

Saling memikul para tersingkir Bersama-sama merubah takdir Hari ini kita kalah lagi Kawan, besok kita coba lagi
Bait-bait sebelumnya yang berbicara dengan "aku" mulai berubah menjadi "kita". Pergeseran ini menandai makna kekalahan yang awalnya disampaikan secara personal, berganti menjadi kesadaran kolektif, menegaskan bahwa mereka yang tersingkir bukan sendirian, tetapi saling menopang. "Merubah takdir" di tengah pengakuan "hari ini kita kalah lagi" terdengar kontradiktif, tapi justru di situ letak estetika yang dibuat oleh Barmy Blokes. Takdir yang ingin diubah bukan hasil persaingan, melainkan makna dari kekalahan itu sendiri. "Kawan, besok kita coba lagi" menjadi titik yang benar-benar berbicara soal harapan — bukan harapan untuk menang, tapi harapan untuk tetap berdiri dan mencoba lagi di kemudian hari.

Lambatkan aku hingga paling belakang (Terbang menggila) Pasti kan' kalah aku tak peduli menang (Terbang menggila) Hargai aku serendah binatang (Terbang menggila) Aku kan' kalah aku tak peduli menang Ki... ta... sa... ma Dalam luka
Pengulangan kalimat "terbang menggila" di setiap jeda terasa seperti ledakan teriakan kemenangan di tengah pengakuan kalah yang berulang. Ditutup dengan bait lirik "kita sama dalam luka", menyampaikan bahwa semua orang sama-sama terluka oleh sistem kompetisi yang bengis ini. Yang di depan terluka karena harus terus rakus, dan yang di belakang terluka karena tersingkir dan direndahkan. Luka itu menjadi satu-satunya hal yang benar-benar dibagi bersama, melampaui status menang ataupun kalah.

Di titik inilah "John Kalahan" berhenti menjadi sekadar lagu tentang kalah lomba, dan menjelma menjadi manifesto tentang menolak standar kemenangan yang ditentukan orang lain. Sama seperti John Callahan yang terus berkarya dengan tangan gemetar tanpa peduli pandangan dunia, Barmy Blokes menyampaikan pesan untuk berhenti mengejar garis finis yang bukan miliknya sendiri, dan tetap berdiri walaupun hampir mati, di lintasan yang sudah dipilih sendiri.