KEMBALI KE ARTICLES
Lima Panggung, Satu Cerita. Menelusuri Wajah Musik dalam PROJEK-D Vol. 1–5
Festival musik sering kali dikenang karena nama besar yang berdiri di atas panggung. Namun, jika sebuah festival mampu bertahan dan terus berkembang dari tahun ke tahun, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar daftar penampil. Ada karakter yang perlahan terbentuk, ada penonton yang terus kembali, dan ada cerita yang tumbuh bersama musik.
Itulah yang menarik dari PROJEK-D.
Berawal dari gelaran pertamanya di De Tjolomadoe pada 2022, PROJEK-D tumbuh menjadi salah satu ruang pertemuan musik di Solo Raya. Perjalanannya dari Vol.1 hingga Vol.5 memperlihatkan bagaimana sebuah festival dapat merangkul banyak warna musik tanpa harus kehilangan identitasnya.
Pada Vol.1, PROJEK-D hadir dengan semangat memperkenalkan festival musik lintas genre kepada penonton Solo Raya. Selama dua hari, 29–30 Oktober 2022, sebanyak 22 penampil mengisi Panggung Maduswara dan Wirama. Nama nama seperti Pamungkas, Ndarboy Genk, The Changcuters, hingga musisi lokal dan nasional lainnya membuat edisi perdana ini terasa seperti perkenalan yang cukup berani.
Yang menarik dari Vol.1 bukan hanya siapa yang tampil, tetapi keberagaman warna yang dibawa. Ada musik yang akrab dengan pendengar muda, ada pula warna lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Kehadiran Ndarboy Genk, misalnya, menunjukkan bahwa bahasa dan identitas lokal tidak harus berada di pinggir ketika musik modern sedang berkembang.
PROJEK-D seperti ingin mengatakan sejak awal: semua boleh punya tempat di sini. Antusiasme penonton pun menjadi tanda bahwa konsep tersebut diterima. Lebih dari 11 ribu penonton hadir selama dua hari penyelenggaraan. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan ketertarikan terhadap festival, tetapi juga memperlihatkan bahwa Solo Raya memiliki penikmat musik yang cukup beragam.
Setahun kemudian, PROJEK-D Vol.2 datang dengan langkah yang lebih percaya diri. Digelar pada 5–6 Agustus 2023, Vol.2 memperluas warna musiknya. For Revenge, Nidji, JKT48, Down For Life, Parade Hujan, NDX AKA, Kuburan, Prontaxan, hingga musisi seperti Dikta Wicaksono, Danilla, Tipe-X, Guyon Waton, Maliq & D’Essentials, Opick, dan Raisa Anggiani hadir dalam satu rangkaian festival. Ada pop, rock, folk, jazz, ska, dangdut, hingga hip hop.
Bagi saya, Vol.2 adalah salah satu bukti bahwa festival musik tidak harus memilih satu jenis pendengar.
Penonton yang datang untuk JKT48 bisa berada di ruang yang sama dengan penggemar NDX AKA. Penikmat rock dapat bertemu pendengar pop. Musik religi mendapatkan ruang berdampingan dengan musik dangdut dan alternatif. Perbedaan selera tidak lagi menjadi jarak.
Bahkan, kehadiran Malinoa & The Dog Pack dan Mandoors melalui program CEKSON memperlihatkan upaya memberi kesempatan kepada musisi pendatang baru. Keduanya membawa karya orisinal dan mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung PROJEK-D.
Vol.2 kemudian ditutup dengan penampilan Maliq & D’Essentials dan pesta kembang api. Lebih dari 13 ribu penonton hadir selama dua hari.
Jika Vol.1 terasa seperti sebuah perkenalan, Vol.2 mulai menunjukkan bahwa PROJEK-D ingin membangun rumah yang cukup luas untuk berbagai genre.
Memasuki Vol.3 pada 2024, cerita tersebut semakin matang. Digelar pada 7–8 September 2024, festival ini menghadirkan 20 penampil. Hari pertama diisi antara lain oleh Good Morning Everyone, HeyRiyok, Bilal Indrajaya, Arum Setiadi, Yan Vellia dan Ndarboy Genk, Woro Widowati, Nadin Amizah, Barmy Blokes, The Adams, serta Namoy Budaya bersama Heruma. Hari kedua menghadirkan Dongker, The Skit, Feby Putri, Bryan Barcelona, Down For Life, Avhath, Bernadya, The Jansen, dan ditutup oleh Tulus.
Di sini, keberagaman kembali menjadi kekuatan.
Ada musisi yang menawarkan kelembutan, ada yang datang dengan energi keras, ada yang membawa warna tradisional, dan ada pula talenta baru yang sedang mencari jalannya. Kehadiran HeyRiyok dan The Skit sebagai pemenang CEKSON juga memperlihatkan bahwa PROJEK-D tidak hanya mengundang nama yang sudah dikenal, tetapi membuka pintu bagi mereka yang sedang membangun nama.
Kemudian datang Vol.4.
Pada 30–31 Agustus 2025, PROJEK-D kembali menggunakan dua panggung, Maduswara dan Wirama, dengan 22 penampil termasuk special performers. Line-up-nya mempertemukan nama seperti .Feast, Hindia, Perunggu, Lomba Sihir, Bernadya, Nadin Amizah, Juicy Luicy, Down For Life, Sukatani, The Jeblogs, Wijaya 80, hingga berbagai nama lokal dan pendatang baru.
Menariknya, setiap panggung seperti memiliki suasana sendiri.
.Feast membawa energi yang lebih meledak. Hindia menghadirkan lagu-lagu yang dekat dengan pengalaman emosional generasi muda. Fletch memberikan warna pop alternative dengan nuansa yang lebih intim, sementara nama nama seperti Down For Life menunjukkan bahwa musik keras tetap memiliki ruang dalam festival yang beragam.
Di sisi lain, kehadiran musisi lokal dan pendatang baru membuat Vol.4 tidak terasa hanya sebagai parade nama besar. Ada upaya untuk menjaga hubungan antara panggung besar dan ekosistem musik daerah. Penyelenggara juga mengembangkan program CEKSOM dan Kelas Musik sebagai bagian dari perjalanan menuju festival.
Lalu, bagaimana dengan Vol.5?
Di sinilah perjalanan PROJEK-D memasuki babak baru. Per 21 Agustus 2026, Vol.5 belum berlangsung dan dijadwalkan pada 5 September 2026 di De Tjolomadoe. Edisi kelima ini membawa tema “Sehidup Separty” dan format baru dengan empat panggung. Line up yang telah diumumkan memperlihatkan keberanian PROJEK-D untuk kembali memperlebar cakupan musiknya. Ada FSTVLST, Nadhif Basalamah, LIPS!!, .Feast, Hindia, Moluccan Soul, Rumah Sakit, Down For Life, hingga The Jeblogs, serta talenta lokal pemenang CEKSON, Mess in Balance.
Bahkan, Vol.5 tidak hanya berbicara tentang musik. Penyelenggara memperkenalkan panggung khusus komedi melalui GUYONLAAAH bersama Stand Up Indo Solo. Ada pula program CEKSON dan Kelas Musik x Dengar Kota yang mempertemukan musisi, komunitas, dan penikmat musik.
Bagi saya, perkembangan dari Vol.1 hingga Vol.5 menunjukkan satu hal yang cukup jelas: PROJEK-D tidak berhenti pada upaya membuat festival menjadi ramai.
Ada usaha untuk membuatnya menjadi ruang.
Ruang bagi musisi yang sudah dikenal. Ruang bagi musisi baru. Ruang bagi komunitas. Ruang bagi karya lokal. Bahkan ruang bagi bentuk hiburan lain yang dapat melengkapi pengalaman festival.
Itulah yang membuat ulasan terhadap penampil PROJEK-D tidak cukup jika hanya berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang paling bagus?”
Sebab kekuatan festival ini justru terletak pada perbedaan.
Ada penampil yang membuat penonton melompat. Ada yang membuat mereka bernyanyi. Ada yang membuat suasana menjadi tenang. Ada yang mungkin baru pertama kali didengar, tetapi justru meninggalkan rasa penasaran.
Tidak semua penampil harus memiliki warna yang sama.
Justru karena berbeda, mereka menciptakan satu lukisan yang lebih utuh. Lima volume Projek-D memperlihatkan perjalanan tersebut. Dari 22 penampil pada edisi pertama, keberagaman genre pada Vol.2, regenerasi musisi pada Vol.3, kematangan line up pada Vol.4, hingga format empat panggung yang disiapkan untuk Vol.5, festival ini terus mencari cara untuk memperluas arti sebuah perayaan musik.
Pada akhirnya, mungkin alasan sebuah penampil diingat bukan semata-mata karena seberapa besar namanya.
Bisa jadi karena satu lagu yang dinyanyikan tepat ketika seseorang sedang membutuhkannya.
Bisa karena energi panggung yang membuat seseorang lupa sejenak pada masalahnya. Atau karena sebuah band yang belum pernah didengar sebelumnya justru menjadi nama yang dicari setelah festival selesai.
Musik bekerja dengan cara yang seperti itu.
Ia tidak selalu meninggalkan kenangan melalui sesuatu yang besar. Kadang hanya melalui satu nada, satu lirik, atau satu malam yang terasa terlalu singkat.
Dan dari Vol.1 hingga Vol.5, PROJEK-D menunjukkan bahwa festival musik bukan hanya kumpulan penampil di atas panggung.
Ia adalah pertemuan banyak warna.
Sebab pada akhirnya, panggung boleh berganti, line up boleh berubah, dan zaman boleh terus bergerak. Namun selama masih ada musisi yang berkarya, penonton yang mau mendengar, serta ruang yang bersedia mempertemukan keduanya, cerita tentang musik akan selalu menemukan panggungnya sendiri.
Itulah yang menarik dari PROJEK-D.
Berawal dari gelaran pertamanya di De Tjolomadoe pada 2022, PROJEK-D tumbuh menjadi salah satu ruang pertemuan musik di Solo Raya. Perjalanannya dari Vol.1 hingga Vol.5 memperlihatkan bagaimana sebuah festival dapat merangkul banyak warna musik tanpa harus kehilangan identitasnya.
Pada Vol.1, PROJEK-D hadir dengan semangat memperkenalkan festival musik lintas genre kepada penonton Solo Raya. Selama dua hari, 29–30 Oktober 2022, sebanyak 22 penampil mengisi Panggung Maduswara dan Wirama. Nama nama seperti Pamungkas, Ndarboy Genk, The Changcuters, hingga musisi lokal dan nasional lainnya membuat edisi perdana ini terasa seperti perkenalan yang cukup berani.
Yang menarik dari Vol.1 bukan hanya siapa yang tampil, tetapi keberagaman warna yang dibawa. Ada musik yang akrab dengan pendengar muda, ada pula warna lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Kehadiran Ndarboy Genk, misalnya, menunjukkan bahwa bahasa dan identitas lokal tidak harus berada di pinggir ketika musik modern sedang berkembang.
PROJEK-D seperti ingin mengatakan sejak awal: semua boleh punya tempat di sini. Antusiasme penonton pun menjadi tanda bahwa konsep tersebut diterima. Lebih dari 11 ribu penonton hadir selama dua hari penyelenggaraan. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan ketertarikan terhadap festival, tetapi juga memperlihatkan bahwa Solo Raya memiliki penikmat musik yang cukup beragam.
Setahun kemudian, PROJEK-D Vol.2 datang dengan langkah yang lebih percaya diri. Digelar pada 5–6 Agustus 2023, Vol.2 memperluas warna musiknya. For Revenge, Nidji, JKT48, Down For Life, Parade Hujan, NDX AKA, Kuburan, Prontaxan, hingga musisi seperti Dikta Wicaksono, Danilla, Tipe-X, Guyon Waton, Maliq & D’Essentials, Opick, dan Raisa Anggiani hadir dalam satu rangkaian festival. Ada pop, rock, folk, jazz, ska, dangdut, hingga hip hop.
Bagi saya, Vol.2 adalah salah satu bukti bahwa festival musik tidak harus memilih satu jenis pendengar.
Penonton yang datang untuk JKT48 bisa berada di ruang yang sama dengan penggemar NDX AKA. Penikmat rock dapat bertemu pendengar pop. Musik religi mendapatkan ruang berdampingan dengan musik dangdut dan alternatif. Perbedaan selera tidak lagi menjadi jarak.
Bahkan, kehadiran Malinoa & The Dog Pack dan Mandoors melalui program CEKSON memperlihatkan upaya memberi kesempatan kepada musisi pendatang baru. Keduanya membawa karya orisinal dan mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung PROJEK-D.
Vol.2 kemudian ditutup dengan penampilan Maliq & D’Essentials dan pesta kembang api. Lebih dari 13 ribu penonton hadir selama dua hari.
Jika Vol.1 terasa seperti sebuah perkenalan, Vol.2 mulai menunjukkan bahwa PROJEK-D ingin membangun rumah yang cukup luas untuk berbagai genre.
Memasuki Vol.3 pada 2024, cerita tersebut semakin matang. Digelar pada 7–8 September 2024, festival ini menghadirkan 20 penampil. Hari pertama diisi antara lain oleh Good Morning Everyone, HeyRiyok, Bilal Indrajaya, Arum Setiadi, Yan Vellia dan Ndarboy Genk, Woro Widowati, Nadin Amizah, Barmy Blokes, The Adams, serta Namoy Budaya bersama Heruma. Hari kedua menghadirkan Dongker, The Skit, Feby Putri, Bryan Barcelona, Down For Life, Avhath, Bernadya, The Jansen, dan ditutup oleh Tulus.
Di sini, keberagaman kembali menjadi kekuatan.
Ada musisi yang menawarkan kelembutan, ada yang datang dengan energi keras, ada yang membawa warna tradisional, dan ada pula talenta baru yang sedang mencari jalannya. Kehadiran HeyRiyok dan The Skit sebagai pemenang CEKSON juga memperlihatkan bahwa PROJEK-D tidak hanya mengundang nama yang sudah dikenal, tetapi membuka pintu bagi mereka yang sedang membangun nama.
Kemudian datang Vol.4.
Pada 30–31 Agustus 2025, PROJEK-D kembali menggunakan dua panggung, Maduswara dan Wirama, dengan 22 penampil termasuk special performers. Line-up-nya mempertemukan nama seperti .Feast, Hindia, Perunggu, Lomba Sihir, Bernadya, Nadin Amizah, Juicy Luicy, Down For Life, Sukatani, The Jeblogs, Wijaya 80, hingga berbagai nama lokal dan pendatang baru.
Menariknya, setiap panggung seperti memiliki suasana sendiri.
.Feast membawa energi yang lebih meledak. Hindia menghadirkan lagu-lagu yang dekat dengan pengalaman emosional generasi muda. Fletch memberikan warna pop alternative dengan nuansa yang lebih intim, sementara nama nama seperti Down For Life menunjukkan bahwa musik keras tetap memiliki ruang dalam festival yang beragam.
Di sisi lain, kehadiran musisi lokal dan pendatang baru membuat Vol.4 tidak terasa hanya sebagai parade nama besar. Ada upaya untuk menjaga hubungan antara panggung besar dan ekosistem musik daerah. Penyelenggara juga mengembangkan program CEKSOM dan Kelas Musik sebagai bagian dari perjalanan menuju festival.
Lalu, bagaimana dengan Vol.5?
Di sinilah perjalanan PROJEK-D memasuki babak baru. Per 21 Agustus 2026, Vol.5 belum berlangsung dan dijadwalkan pada 5 September 2026 di De Tjolomadoe. Edisi kelima ini membawa tema “Sehidup Separty” dan format baru dengan empat panggung. Line up yang telah diumumkan memperlihatkan keberanian PROJEK-D untuk kembali memperlebar cakupan musiknya. Ada FSTVLST, Nadhif Basalamah, LIPS!!, .Feast, Hindia, Moluccan Soul, Rumah Sakit, Down For Life, hingga The Jeblogs, serta talenta lokal pemenang CEKSON, Mess in Balance.
Bahkan, Vol.5 tidak hanya berbicara tentang musik. Penyelenggara memperkenalkan panggung khusus komedi melalui GUYONLAAAH bersama Stand Up Indo Solo. Ada pula program CEKSON dan Kelas Musik x Dengar Kota yang mempertemukan musisi, komunitas, dan penikmat musik.
Bagi saya, perkembangan dari Vol.1 hingga Vol.5 menunjukkan satu hal yang cukup jelas: PROJEK-D tidak berhenti pada upaya membuat festival menjadi ramai.
Ada usaha untuk membuatnya menjadi ruang.
Ruang bagi musisi yang sudah dikenal. Ruang bagi musisi baru. Ruang bagi komunitas. Ruang bagi karya lokal. Bahkan ruang bagi bentuk hiburan lain yang dapat melengkapi pengalaman festival.
Itulah yang membuat ulasan terhadap penampil PROJEK-D tidak cukup jika hanya berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang paling bagus?”
Sebab kekuatan festival ini justru terletak pada perbedaan.
Ada penampil yang membuat penonton melompat. Ada yang membuat mereka bernyanyi. Ada yang membuat suasana menjadi tenang. Ada yang mungkin baru pertama kali didengar, tetapi justru meninggalkan rasa penasaran.
Tidak semua penampil harus memiliki warna yang sama.
Justru karena berbeda, mereka menciptakan satu lukisan yang lebih utuh. Lima volume Projek-D memperlihatkan perjalanan tersebut. Dari 22 penampil pada edisi pertama, keberagaman genre pada Vol.2, regenerasi musisi pada Vol.3, kematangan line up pada Vol.4, hingga format empat panggung yang disiapkan untuk Vol.5, festival ini terus mencari cara untuk memperluas arti sebuah perayaan musik.
Pada akhirnya, mungkin alasan sebuah penampil diingat bukan semata-mata karena seberapa besar namanya.
Bisa jadi karena satu lagu yang dinyanyikan tepat ketika seseorang sedang membutuhkannya.
Bisa karena energi panggung yang membuat seseorang lupa sejenak pada masalahnya. Atau karena sebuah band yang belum pernah didengar sebelumnya justru menjadi nama yang dicari setelah festival selesai.
Musik bekerja dengan cara yang seperti itu.
Ia tidak selalu meninggalkan kenangan melalui sesuatu yang besar. Kadang hanya melalui satu nada, satu lirik, atau satu malam yang terasa terlalu singkat.
Dan dari Vol.1 hingga Vol.5, PROJEK-D menunjukkan bahwa festival musik bukan hanya kumpulan penampil di atas panggung.
Ia adalah pertemuan banyak warna.
Sebab pada akhirnya, panggung boleh berganti, line up boleh berubah, dan zaman boleh terus bergerak. Namun selama masih ada musisi yang berkarya, penonton yang mau mendengar, serta ruang yang bersedia mempertemukan keduanya, cerita tentang musik akan selalu menemukan panggungnya sendiri.
Disunting oleh: Public Relations Dyandra Promosindo