KEMBALI KE ARTICLES

Paradoks Diametral keputusan berani dengan banyak hakikat perlawanan

02 Sep 2026 Daniel Osnadi 96 Views ARTIKEL
Paradoks Diametral keputusan berani dengan banyak hakikat perlawanan
Source Foto: Instagram FSTVLST
Sebagai seseorang yang sudah cukup lama mengikuti FSTVLST, Paradoks Diametral terasa seperti sebuah langkah yang cukup berbeda dari karya-karya mereka sebelumnya. Jika rilisan terdahulu identik dengan karakter grunge dan alternative rock yang kuat, album ini justru memperlihatkan sisi lain melalui sentuhan disco dan penggunaan synth yang cukup dominan. Kehadiran elemen tersebut membuat warna musik FSTVLST terdengar lebih kaya secara melodis dan memberikan nuansa yang berbeda dari biasanya.

Terdiri dari 12 lagu, Paradoks Diametral juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Iga Massardi yang terlibat sebagai produser. Hal tersebut cukup terdengar dalam beberapa materi seperti “Pratuntas” dan “Objek Vital Nasional”, terutama melalui pendekatan aransemen yang membawa karakter musikal Iga. Meski demikian, keterlibatan tersebut tidak lantas menghilangkan ciri khas FSTVLST. Alih-alih mengubah identitas mereka secara total, pengaruh tersebut terasa seperti membuka kemungkinan baru dalam cara FSTVLST menyusun musiknya.

Konsekuensinya, album ini membutuhkan pendekatan mendengar yang sedikit berbeda. Dibandingkan rilisan FSTVLST sebelumnya, Paradoks Diametral terasa tidak terlalu mudah untuk langsung diterima, khususnya bagi pendengar yang baru mengenal mereka. Kesulitannya bukan terletak pada intensitas atau kekerasan musik, tetapi pada karakter lagu-lagunya yang tidak selalu memberikan kesan familiar sejak pertama kali didengarkan. Aransemen yang lebih penuh, ditambah pola melodi yang cenderung repetitif dan berjalan dengan tempo yang lebih tenang, membuat album ini terasa perlu didengarkan berulang kali sebelum benar-benar bisa dipahami.

Pendekatan serupa juga terlihat dalam penulisan lirik Farid Stevy. Di sejumlah lagu, makna yang ingin disampaikan tidak diberikan secara langsung. Pilihan diksi dan susunan kalimatnya justru terasa seperti potongan-potongan yang harus dirangkai sendiri oleh pendengar. Cara bertutur semacam ini membuat pendengar memiliki ruang untuk menafsirkan lagu berdasarkan pengalaman masing-masing. Dibandingkan karya-karya FSTVLST sebelumnya yang cenderung lebih lugas dalam menyampaikan keresahan, Paradoks Diametral terasa lebih tenang, dalam, dan reflektif.

Dari sisi tema, album ini juga menunjukkan perluasan wilayah eksplorasi FSTVLST. Keresahan terhadap persoalan sosial yang selama ini menjadi salah satu karakter mereka masih terasa, tetapi kali ini muncul pula pendekatan yang lebih spiritual dan personal. “Enam Masa” menjadi salah satu contoh yang cukup jelas. Lagu tersebut menghadirkan atmosfer yang lebih introspektif, dengan lirik yang mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan melihat persoalan dari sisi yang lebih dalam.

Di antara seluruh lagu yang ada, “Jefferson” mungkin menjadi salah satu materi yang paling dekat dengan wajah FSTVLST yang selama ini dikenal. Energinya terasa lebih spontan dan agresif, sementara struktur musiknya juga lebih mudah mengingatkan pada karya-karya mereka terdahulu. Di balik karakter musik tersebut, lagu ini membawa cerita mengenai tragedi ’65 melalui penyebutan nama “Jefferson”, yang merujuk pada sebuah gedung di Yogyakarta yang memiliki kaitan dengan sejarah kelam pada periode tersebut.

Pada akhirnya, Paradoks Diametral bukanlah album yang menawarkan pengalaman mendengar secara instan. Bagi pendengar lama FSTVLST sekalipun, album ini membutuhkan waktu untuk menemukan titik masuknya. Namun, justru ketidaklangsungannya tersebut yang membuat album ini menarik. FSTVLST terlihat berani mengeksplorasi bentuk dan warna musik baru, sekaligus tetap mempertahankan elemen-elemen yang membuat mereka tetap terasa sebagai FSTVLST. Paradoks Diametral akhirnya menjadi semacam bukti bahwa perubahan arah tidak selalu berarti meninggalkan identitas, tetapi bisa menjadi cara untuk memperluas batas dari identitas itu sendiri.