KEMBALI KE ARTICLES

Pengaruh Perilaku FOMO Dalam Industri Musik

02 Sep 2026 Anggriano Restu Putra 106 Views ARTIKEL
FOMO berasal dari singkatan Fear of Missing Out atau secara harfiah dapat diartikan sebagai perasaan takut atau cemas akan dirinya tertinggal suatu tren, berita, atau momen seru yang dialami oleh orang lain. Awalnya, saya merasa terganggu setiap saya menemukan sebuah band yang belum memiliki banyak pendengar, karena bagi saya melodi-melodi yang dihasilkan seperti sebuah rahasia pribadi, sebab lirik-lirik relate dengan kehidupan maupun sifat saya. Namun, seiring berjalannya waktu algoritma sosial media menyebabkan lagu dan postingan dari band tersebut muncul di lini masa banyak orang, dan karena hal tersebut semua orang mendengarkan mereka. Bukan karena mereka menemukan kedalaman musikalnya, tetapi karena takut ketinggalan tren.

Disinilah keresahan saya bermula. Saya tentu bangga karena band yang semula tidak dikenal banyak orang menjadi trending. Tetapi, ada sesuatu yang menggangu dari cara mereka datang. Bukan karena effort tetapi karena keramaian. Maka, muncul sebuah pertanyaan apakah FOMO ini membuat band berkembang atau malah menggangu pendengar lama karena terkikis euforia sesaat.

Secara rasional, ketika sebuah band atau musisi melonjak kepopularitasannya dalam waktu singkat, terjadi pendengar baru sering kali tidak diimbangi dengan pendalaman. Mereka mendengarkan lagu dari band atau musisi yang sama, namun tidak melalui proses penemuan yang personal. Mereka tidak melalui fase “intimate” dengan band seperti menggali seluruh diskografi, membaca lirik, merasakan evolusi suara dari waktu ke waktu. Mereka masuk di puncak, namun tidak pernah mendaki bersama.

Kegelisahan ini muncul ketika sebuah band menjadi “komoditas tren”, ada risiko bahwa esensi artistik mereka direduksi menjadi sekadar konten media sosial. Sebuah band yang saya ketahui melalui penuh perjuangan kini menjadi milik semua orang dan saya merasakan keintiman band tersebut menghilang. Namun, saya menyadari bahwa FOMO adalah mesin penggerak yang nyata. Tanpa FOMO, band itu tidak akan mungkin pernah mendapatkan panggung yang layak.

Namun di lain sisi terdapat sisi positif dari FOMO itu sendiri. Pertama, lonjakan popularitas dan pendapatan. Ketika FOMO melanda, jumlah pendengar streaming melonjak, tiket terjual dalam hitungan jam, dan merchandise laris manis. Saya menyaksikan sendiri bagaimana The Skit mengalami hal tersebut, yang dulu hanya mengisi gigs kecil di kafe, kini bisa tampil di panggung festival besar dan melakukan kolaborasi dengan The Jeblogs, FSTVLST, dan The Kick yang sering disebut dengan “Mataram Wave”. Secara finansial, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi para musisi yang selama ini berjuang.

Kedua, FOMO membawa musik ke telinga yang lebih banyak, termasuk orang-orang yang mungkin tidak akan pernah menemukannya secara organik. Beberapa diantara mereka, awalnya datang karena FOMO, akhirnya bisa berubah menjadi penggemar sejati. Mereka mulai menggali karya lama, memahami perjalanan band, dan menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Dan terakhir, melihat karya mereka diterima oleh banyak orang adalah dorongan moral yang luar biasa bagi para musisi. Ini memberi mereka kepercayaan diri band atau musisi untuk terus berkarya, bereksperimen dan mengambil risiko artistik yang lebih besar.

Namun di balik kilau popularitas, terdapat sisi gelap yang sering diabaikan. Pertama, band atau musisi yang tiba-tiba populer sering kali menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan “viralitas”. Mereka bisa terjebak dalam formula yang aman dan repetitif, mengorbankan keunikan yang membuat mereka istimewa di mata penggemar awal, sebab mereka akan berada di zona nyaman, mudah dicerna, dan seringkali kehilangan jiwa yang dahulu. Kedua, pendengar yang FOMO cenderung tidak loyal. Mereka datang karena tren dan akan pergi jika tren berganti. Jika band tidak berhasil mengubah pendengar FOMO menjadi penggemar sejati, mereka akan ditinggalkan begitu saja ketika gelombang popularitas mulai mereda. Contoh saja Dongker yang menjadi populer karena lagu “Disarankan di Bandung” hingga mencapai total 107 juta pendengar di Spotify. Namun di single baru mereka yang bertajuk “Lautan Bunga Warna Terang” hanya mendapat 808 ribu total pendengar di platform yang sama. Hal ini, merupakan salah bukti bahwa FOMO juga memiliki sisi
gelap.

Dari analisis diatas, jelas bahwa FOMO bukanlah baik atau buruk. Ia adalah alat yang hasilnya bergantung pada bagaimana band atau musisi merespon hal
tersebut. FOMO akan menguntungkan jika digunakan sebagai pintu masuk untuk membangun jangka panjang dan FOMO akan menjadi merugikan jika dibiarkan sebagai tujuan akhir yang dangkal.

Dan pada akhirnya saya menerima bahwa FOMO adalah bagian tak terpisahkan dari industri musik modern. Ia memang membuat band atau musisi
berkembang, memperluas jaringan, dan membawa musik ke telinga yang lebih banyak. Namun, jika diibaratkan sebuah bangunan, FOMO hanya sekedar pintu masuk. Rumah bagi band atau musisi adalah mereka yang datang bukan karena keramaian, tetapi karena perjuangan. Mereka yang tinggal setelah tren berlalu, yang loyal meskipun tidak ada lagi yang mendengarkan band atau musisi tersebut.

Namun pada akhirnya keresahan saya terjawab dan terpatahkan oleh lirik lagu baru dari FSTVLST “Kau tak perlu hafal lirik lagunya, kau tak harus menafsir musiknya, RAYAkan saja”.  Sepenggal lirik dari lagu Rock Jelek milik FSTVLST.