KEMBALI KE ARTICLES
Projek-D Tidak Berakhir di Panggung
Ketika kembali ke Solo pada 2010, saya mulai sering datang ke gigs atau acara musik. Biasanya saya tidak langsung pulang setelah pertunjukan selesai. Saya bertahan sedikit lebih lama, berbincang dengan pengelola acara atau band yang tampil, sekadar ingin tahu apa yang sedang terjadi di skena musik kota ini.
Dari kebiasaan itu, ada satu pertanyaan yang beberapa kali muncul:
“Kalau Mas sendiri, band-nya apa?”
Biasanya saya tertawa.
Pertanyaan itu lucu, tetapi juga memberi gambaran tentang bagaimana kita dulu memandang skena musik. Seolah-olah untuk berada di dalamnya, seseorang harus punya band. Seolah dunia musik hanya milik mereka yang naik ke panggung.
Padahal, musik tidak pernah hanya berisi orang yang berdiri di atas panggung.
Ada orang yang mengurus acara, membuat poster, memotret, merekam video, menulis berita, mengatur panggung, mengurus suara dan lampu, sampai membangun komunitas dan membuat penonton datang. Ada banyak lapisan pekerjaan yang membuat sebuah pertunjukan bisa terjadi.
Musik sudah lama menciptakan pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar pekerjaan sebagai musisi.
Tetapi apakah semua pekerjaan yang muncul di sekitar musik otomatis menjadi bagian dari industri kreatif?
Rasanya tidak sesederhana itu. Ada vendor makanan, merchandise, percetakan, transportasi, penginapan, keamanan, dan berbagai jasa lain yang ikut bergerak ketika sebuah festival berlangsung. Mereka menghasilkan uang dari festival, tetapi itu belum menjelaskan apa yang membuat sebuah kegiatan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.
Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar berapa banyak uang yang berputar ketika sebuah festival berlangsung.
Melainkan: apa yang tersisa setelah festival selesai?
Apakah ada pengetahuan yang berpindah? Apakah ada jejaring baru yang terbentuk? Apakah orang-orang yang terlibat memperoleh kesempatan untuk tumbuh? Apakah pertemuan yang berlangsung selama satu atau dua hari kemudian menghasilkan pekerjaan, kolaborasi, atau karya lain?
Di titik itu, sebuah festival mulai menjadi lebih dari sekadar acara.
Ia menjadi bagian dari ekosistem.
PROJEK-D menarik untuk dibicarakan dalam konteks ini karena festival ini diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo, perusahaan event organizer yang berkantor pusat di Jakarta dan memiliki rekam jejak penyelenggaraan acara di berbagai daerah.
Sebagai promotor, tentu saja mereka datang ke Solo untuk menjalankan bisnis. Tidak ada kewajiban bagi sebuah perusahaan dari luar kota untuk ikut membangun ekosistem kreatif di kota tempat mereka menggelar acara.
Karena itu, ketika sebuah festival seperti PROJEK-D menyediakan ruang bagi talenta dan pekerja kreatif lokal, hal tersebut layak diapresiasi tanpa harus dibesar-besarkan sebagai upaya heroik membangun ekosistem. Mereka tidak harus melakukannya. Tetapi mereka memilih menyediakan sebagian ruang untuk itu.
Salah satunya adalah CEKSON, program pencarian talenta musik baru dan orisinal dari Jawa Tengah. Pemenangnya, Mess In Balance dari Surakarta, mendapat kesempatan tampil di PROJEK-D Vol. 5 sekaligus dukungan pembuatan merchandise kolaborasi.
CEKSON bukan sekadar cara mencari satu nama untuk mengisi panggung. Ada proses pencarian dan seleksi sebelum sebuah band yang belum banyak dikenal mendapat panggung, bahkan dukungan untuk membuat merchandise.
Satu program tentu tidak akan menyelesaikan persoalan regenerasi musisi lokal. Tetapi setidaknya ada jalur yang menghubungkan talenta yang belum banyak dikenal dengan panggung yang memiliki audiens lebih luas.
PROJEK-D juga menjalankan Kelas Musik x Dengar Kota, yang memadukan diskusi dan pertunjukan musik. Rangkaian tahun ini dimulai di Pekalongan dengan tema “Album Kelar, Terus Gimana?”, kemudian berlanjut ke Semarang dan Solo, sebelum menuju Yogyakarta. Program ini dirancang sebagai ruang diskusi, berbagi pengetahuan, dan memperluas jejaring bagi musisi lokal.
Jika CEKSON memberi jalan menuju panggung, Kelas Musik x Dengar Kota bekerja di wilayah yang berbeda: pengetahuan dan pertemuan. Yang ditawarkan tidak selalu berupa kesempatan tampil. Ada juga kesempatan untuk duduk, mendengar, bertanya, dan bertemu orang lain yang bekerja di bidang yang sama.
Program lain seperti BATIK dan Suara Musik juga membuka ruang bagi jurnalis dan penulis muda untuk mengolah perspektif mereka tentang ekosistem musik.
Setidaknya, program-program itu memperlihatkan adanya ruang yang disediakan PROJEK-D di luar pertunjukan di atas panggung.
Tentu belum bisa dikatakan bahwa semua program itu telah menghasilkan dampak yang bertahan lama. Untuk mengatakan itu, dibutuhkan data yang belum tersedia: berapa banyak musisi yang kemudian mendapatkan pekerjaan, kolaborasi apa yang lahir, atau sejauh mana jejaring yang terbentuk terus berjalan setelah festival selesai.
Tetapi sebuah festival mungkin tidak harus mengendalikan hasil akhirnya untuk bisa berperan dalam ekosistem. Ia cukup menyediakan kesempatan bagi pertemuan itu terjadi.
Musisi bisa bertemu penonton baru. Penulis bisa menemukan bahan tulisan. Fotografer atau videografer mungkin mendapat kontrak kerja baru. Komunitas bisa menemukan jejaring yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Tidak semuanya akan terjadi. Tetapi tanpa pertemuan pertama, kemungkinan itu juga tidak ada.
Di sinilah sebuah festival sekelas PROJEK-D menjadi menarik untuk dilihat sebagai bagian dari industri kreatif. Nilainya tidak selalu selesai ketika penonton meninggalkan venue. Sebagian nilainya mungkin baru terlihat jauh setelah panggung dibongkar.
PROJEK-D kini memasuki edisi kelima. Lima edisi tentu belum cukup untuk mengatakan bahwa PROJEK-D telah membangun ekosistem kreatif yang kuat. Tetapi lima edisi juga membuatnya sulit dianggap sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Ada kesinambungan yang harus dipelihara dari satu edisi ke edisi berikutnya agar sebuah festival bisa kembali digelar. Dari sudut pandang bisnis saja, keberlanjutan itu sudah penting. Tetapi dari sudut pandang ekosistem, yang lebih menarik adalah apa yang tumbuh di antara satu edisi dan edisi berikutnya.
Orang yang bertemu hari ini mungkin bekerja bersama di kemudian hari. Musisi yang mendapat panggung hari ini mungkin datang dengan karya yang berbeda pada edisi berikutnya.
Tidak semua hubungan itu bisa dicatat sebagai dampak sebuah festival, apalagi diklaim sebagai keberhasilan festival. Tetapi justru di wilayah semacam itulah ekosistem kreatif bekerja: tidak selalu terlihat, tidak selalu bisa dihitung, tetapi meninggalkan kemungkinan untuk pertemuan berikutnya.
Karena itu, terlalu dini menyebut PROJEK-D sebagai penggerak ekosistem kreatif Solo Raya. Klaim semacam itu membutuhkan data yang lebih panjang daripada lima edisi dan lebih banyak daripada daftar program. Kita perlu tahu siapa yang kemudian mendapatkan pekerjaan, siapa yang berkembang, kolaborasi apa yang lahir, dan apakah kesempatan yang diberikan benar benar berlanjut setelah festival selesai. Tanpa itu, kita hanya memiliki dugaan.
Tetapi justru di situlah pentingnya melihat festival lebih jauh daripada panggungnya. Sebuah festival tidak harus membangun seluruh ekosistem sendirian. Ia dapat menyediakan ruang bagi orang untuk belajar, menulis, tampil, bertemu, dan mencoba sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dari sana, hubungan-hubungan baru mungkin terbentuk dan pekerjaan-pekerjaan baru mungkin muncul. Selebihnya, ekosistem akan tumbuh melalui orang-orang yang menggunakannya.
Sebuah festival musik pada akhirnya memang tidak dibangun hanya oleh musisi dan penontonnya. Ia bergantung pada orang-orang yang bekerja sebelum pertunjukan dimulai, tetapi juga pada hubungan yang terbentuk di luar pertunjukan itu sendiri.
Panggung boleh dibongkar setelah acara selesai. Tetapi pengetahuan, perkenalan, pengalaman, dan kemungkinan kerja yang muncul dari sebuah pertemuan tidak harus ikut kembali ke gudang.
Mungkin di situlah arti kesinambungan sebuah festival. Bukan semata-mata bahwa ia mampu menjual tiket lagi tahun depan dan kembali memenuhi venue, melainkan bahwa setiap kedatangannya meninggalkan sesuatu yang membuat orang orang di sekitarnya memiliki kemungkinan baru untuk bekerja dan berkarya.
Belum bisa diketahui apakah PROJEK-D sudah sampai pada titik itu. Lima edisi belum memberi kita alasan untuk membuat kesimpulan sebesar itu.
Tetapi mungkin memang bukan itu pertanyaan yang paling penting.
Yang lebih penting adalah apakah, setelah panggung dibongkar dan orang-orang pulang, ada sesuatu yang ikut berjalan: seorang musisi dengan kesempatan baru, seorang penulis dengan pekerjaan berikutnya, sebuah pertemanan yang berubah menjadi kolaborasi, atau sebuah pertemuan yang kelak mempertemukan orang-orang itu kembali.
Kalau itu terjadi, maka PROJEK-D memang tidak berakhir di panggung.
Dari kebiasaan itu, ada satu pertanyaan yang beberapa kali muncul:
“Kalau Mas sendiri, band-nya apa?”
Biasanya saya tertawa.
Pertanyaan itu lucu, tetapi juga memberi gambaran tentang bagaimana kita dulu memandang skena musik. Seolah-olah untuk berada di dalamnya, seseorang harus punya band. Seolah dunia musik hanya milik mereka yang naik ke panggung.
Padahal, musik tidak pernah hanya berisi orang yang berdiri di atas panggung.
Ada orang yang mengurus acara, membuat poster, memotret, merekam video, menulis berita, mengatur panggung, mengurus suara dan lampu, sampai membangun komunitas dan membuat penonton datang. Ada banyak lapisan pekerjaan yang membuat sebuah pertunjukan bisa terjadi.
Musik sudah lama menciptakan pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar pekerjaan sebagai musisi.
Tetapi apakah semua pekerjaan yang muncul di sekitar musik otomatis menjadi bagian dari industri kreatif?
Rasanya tidak sesederhana itu. Ada vendor makanan, merchandise, percetakan, transportasi, penginapan, keamanan, dan berbagai jasa lain yang ikut bergerak ketika sebuah festival berlangsung. Mereka menghasilkan uang dari festival, tetapi itu belum menjelaskan apa yang membuat sebuah kegiatan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.
Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar berapa banyak uang yang berputar ketika sebuah festival berlangsung.
Melainkan: apa yang tersisa setelah festival selesai?
Apakah ada pengetahuan yang berpindah? Apakah ada jejaring baru yang terbentuk? Apakah orang-orang yang terlibat memperoleh kesempatan untuk tumbuh? Apakah pertemuan yang berlangsung selama satu atau dua hari kemudian menghasilkan pekerjaan, kolaborasi, atau karya lain?
Di titik itu, sebuah festival mulai menjadi lebih dari sekadar acara.
Ia menjadi bagian dari ekosistem.
PROJEK-D menarik untuk dibicarakan dalam konteks ini karena festival ini diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo, perusahaan event organizer yang berkantor pusat di Jakarta dan memiliki rekam jejak penyelenggaraan acara di berbagai daerah.
Sebagai promotor, tentu saja mereka datang ke Solo untuk menjalankan bisnis. Tidak ada kewajiban bagi sebuah perusahaan dari luar kota untuk ikut membangun ekosistem kreatif di kota tempat mereka menggelar acara.
Karena itu, ketika sebuah festival seperti PROJEK-D menyediakan ruang bagi talenta dan pekerja kreatif lokal, hal tersebut layak diapresiasi tanpa harus dibesar-besarkan sebagai upaya heroik membangun ekosistem. Mereka tidak harus melakukannya. Tetapi mereka memilih menyediakan sebagian ruang untuk itu.
Salah satunya adalah CEKSON, program pencarian talenta musik baru dan orisinal dari Jawa Tengah. Pemenangnya, Mess In Balance dari Surakarta, mendapat kesempatan tampil di PROJEK-D Vol. 5 sekaligus dukungan pembuatan merchandise kolaborasi.
CEKSON bukan sekadar cara mencari satu nama untuk mengisi panggung. Ada proses pencarian dan seleksi sebelum sebuah band yang belum banyak dikenal mendapat panggung, bahkan dukungan untuk membuat merchandise.
Satu program tentu tidak akan menyelesaikan persoalan regenerasi musisi lokal. Tetapi setidaknya ada jalur yang menghubungkan talenta yang belum banyak dikenal dengan panggung yang memiliki audiens lebih luas.
PROJEK-D juga menjalankan Kelas Musik x Dengar Kota, yang memadukan diskusi dan pertunjukan musik. Rangkaian tahun ini dimulai di Pekalongan dengan tema “Album Kelar, Terus Gimana?”, kemudian berlanjut ke Semarang dan Solo, sebelum menuju Yogyakarta. Program ini dirancang sebagai ruang diskusi, berbagi pengetahuan, dan memperluas jejaring bagi musisi lokal.
Jika CEKSON memberi jalan menuju panggung, Kelas Musik x Dengar Kota bekerja di wilayah yang berbeda: pengetahuan dan pertemuan. Yang ditawarkan tidak selalu berupa kesempatan tampil. Ada juga kesempatan untuk duduk, mendengar, bertanya, dan bertemu orang lain yang bekerja di bidang yang sama.
Program lain seperti BATIK dan Suara Musik juga membuka ruang bagi jurnalis dan penulis muda untuk mengolah perspektif mereka tentang ekosistem musik.
Setidaknya, program-program itu memperlihatkan adanya ruang yang disediakan PROJEK-D di luar pertunjukan di atas panggung.
Tentu belum bisa dikatakan bahwa semua program itu telah menghasilkan dampak yang bertahan lama. Untuk mengatakan itu, dibutuhkan data yang belum tersedia: berapa banyak musisi yang kemudian mendapatkan pekerjaan, kolaborasi apa yang lahir, atau sejauh mana jejaring yang terbentuk terus berjalan setelah festival selesai.
Tetapi sebuah festival mungkin tidak harus mengendalikan hasil akhirnya untuk bisa berperan dalam ekosistem. Ia cukup menyediakan kesempatan bagi pertemuan itu terjadi.
Musisi bisa bertemu penonton baru. Penulis bisa menemukan bahan tulisan. Fotografer atau videografer mungkin mendapat kontrak kerja baru. Komunitas bisa menemukan jejaring yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Tidak semuanya akan terjadi. Tetapi tanpa pertemuan pertama, kemungkinan itu juga tidak ada.
Di sinilah sebuah festival sekelas PROJEK-D menjadi menarik untuk dilihat sebagai bagian dari industri kreatif. Nilainya tidak selalu selesai ketika penonton meninggalkan venue. Sebagian nilainya mungkin baru terlihat jauh setelah panggung dibongkar.
PROJEK-D kini memasuki edisi kelima. Lima edisi tentu belum cukup untuk mengatakan bahwa PROJEK-D telah membangun ekosistem kreatif yang kuat. Tetapi lima edisi juga membuatnya sulit dianggap sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Ada kesinambungan yang harus dipelihara dari satu edisi ke edisi berikutnya agar sebuah festival bisa kembali digelar. Dari sudut pandang bisnis saja, keberlanjutan itu sudah penting. Tetapi dari sudut pandang ekosistem, yang lebih menarik adalah apa yang tumbuh di antara satu edisi dan edisi berikutnya.
Orang yang bertemu hari ini mungkin bekerja bersama di kemudian hari. Musisi yang mendapat panggung hari ini mungkin datang dengan karya yang berbeda pada edisi berikutnya.
Tidak semua hubungan itu bisa dicatat sebagai dampak sebuah festival, apalagi diklaim sebagai keberhasilan festival. Tetapi justru di wilayah semacam itulah ekosistem kreatif bekerja: tidak selalu terlihat, tidak selalu bisa dihitung, tetapi meninggalkan kemungkinan untuk pertemuan berikutnya.
Karena itu, terlalu dini menyebut PROJEK-D sebagai penggerak ekosistem kreatif Solo Raya. Klaim semacam itu membutuhkan data yang lebih panjang daripada lima edisi dan lebih banyak daripada daftar program. Kita perlu tahu siapa yang kemudian mendapatkan pekerjaan, siapa yang berkembang, kolaborasi apa yang lahir, dan apakah kesempatan yang diberikan benar benar berlanjut setelah festival selesai. Tanpa itu, kita hanya memiliki dugaan.
Tetapi justru di situlah pentingnya melihat festival lebih jauh daripada panggungnya. Sebuah festival tidak harus membangun seluruh ekosistem sendirian. Ia dapat menyediakan ruang bagi orang untuk belajar, menulis, tampil, bertemu, dan mencoba sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dari sana, hubungan-hubungan baru mungkin terbentuk dan pekerjaan-pekerjaan baru mungkin muncul. Selebihnya, ekosistem akan tumbuh melalui orang-orang yang menggunakannya.
Sebuah festival musik pada akhirnya memang tidak dibangun hanya oleh musisi dan penontonnya. Ia bergantung pada orang-orang yang bekerja sebelum pertunjukan dimulai, tetapi juga pada hubungan yang terbentuk di luar pertunjukan itu sendiri.
Panggung boleh dibongkar setelah acara selesai. Tetapi pengetahuan, perkenalan, pengalaman, dan kemungkinan kerja yang muncul dari sebuah pertemuan tidak harus ikut kembali ke gudang.
Mungkin di situlah arti kesinambungan sebuah festival. Bukan semata-mata bahwa ia mampu menjual tiket lagi tahun depan dan kembali memenuhi venue, melainkan bahwa setiap kedatangannya meninggalkan sesuatu yang membuat orang orang di sekitarnya memiliki kemungkinan baru untuk bekerja dan berkarya.
Belum bisa diketahui apakah PROJEK-D sudah sampai pada titik itu. Lima edisi belum memberi kita alasan untuk membuat kesimpulan sebesar itu.
Tetapi mungkin memang bukan itu pertanyaan yang paling penting.
Yang lebih penting adalah apakah, setelah panggung dibongkar dan orang-orang pulang, ada sesuatu yang ikut berjalan: seorang musisi dengan kesempatan baru, seorang penulis dengan pekerjaan berikutnya, sebuah pertemanan yang berubah menjadi kolaborasi, atau sebuah pertemuan yang kelak mempertemukan orang-orang itu kembali.
Kalau itu terjadi, maka PROJEK-D memang tidak berakhir di panggung.
Disunting oleh: Public Relations Dyandra Promosindo