KEMBALI KE ARTICLES

Tak Pernah Tidur, Namun Kembali Bangun: FSTVLST Dengan Paradoks Diametralnya

02 Sep 2026 Rafael Alif 318 Views ARTIKEL
FSTVLST, band dengan slogan 'Hampir Rock Nyaris Seni' dalam rangka memenuhi siklus enam tahunnya, merilis karya terbaru, sebuah album dengan judul “Paradoks Diametral” bertepatan pada hari Buruh, 1 Mei 2026. Album ini menjadi karya ketiga FSTVLST dan karya keempat bagi “jiwa”-nya FSTVLST itu sendiri semenjak berdiri sebagai “Jenny”. Sebelum melakukan perilisan secara penuh, FSTVLST sudah lebih dulu mengadakan sesi dengar di beberapa kota Indonesia bahkan hingga Brunei Darussalam. Para penggemar yang datang ke sesi dengar pada saat itu memiliki kesempatan untuk mendengarkan beberapa track album Paradoks Diametral sebelum dirilis secara publik. Hal ini tentu menjadi salah satu strategi FSTVLST untuk memperkenalkan para penggemarnya kepada karya-karya terbaru mereka dalam album ketiga ini.

Desain Visual album Paradoks Diametral menggunakan palet warna yang mereka sebut “Palet Brengsek”. Setelah ditelusuri, palet warna ini kurang lebih dikenal dengan nama “RGB Color Model”. Berdasarkan definisi yang saya kutip dari Britannica.com, RGB merupakan model warna yang digunakan perangkat digital atau media lain berbasis cahaya untuk menghasilkan berbagai macam warna hanya dari tiga warna penyusun, yaitu merah (red), hijau (green) dan biru (blue). Model warna ini bekerja dengan mencampurkan masing masing warna dari merah, hijau, dan biru yang menghasilkan warna-warna turunan seperti magenta, sian, dan kuning, sedangkan percampuran ketiganya dalam intensitas penuh menghasilkan warna putih.

Palet Brengsek menggunakan beberapa warna dari RGB Color Model ini dalam desain media publikasi album ketiga FSTVLST. Lalu mengapa saya menyebut “beberapa”? karena terdapat warna yang hingga saat tulisan ini dibuat, belum nampak batang hidungnya dalam publikasi terkait album ketiga FSTVLST. Warna yang belum muncul ini adalah “merah” dan “kuning”, yang jika menganut dugaan liar saya, warna ini telah terwakili oleh dua album sebelumnya, yaitu “Hits Kitsch” yang identik dengan warna merah dan “ FSTVLST II” dengan warna kuning. Oleh karena itu dalam album ketiga ini, FSTVLST menggunakan warna-warna selain merah dan kuning dalam lingkup RGB Color Model sebagai identitas baru mereka. Lalu bagaimana dengan warna putih? Meskipun kode warna ini muncul dalam rilis Palet Brengsek, warna itu belum muncul dalam desain publikasi media FSTVLST hingga sekarang. Namun, jika lagi-lagi menganut asumsi liar saya, karena warna itu merupakan hasil totalitas dari ketiga warna penyusun RGB, maka “putih” ini mewakili album “Paradoks Diametral” atau bahkan FSTVLST itu sendiri.

Sebagai model warna yang digunakan perangkat digital, RGB dapat dikatakan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia kontemporer yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap media digital. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan apabila saya menerka-nerka alasan FSTVLST memilih palet warna ini untuk album ketiga mereka. RGB Color Model yang kemudian diadopsi FSTVLST sebagai “Palet Brengsek” ini, saya baca sebagai penanda kedekatan album ini dengan lanskap ruang digital, di mana identitas, relasi sosial, emosi, opini hingga realitas sosial itu sendiri semakin sering dipertemukan, dibentuk, dipertontonkan, dan dipahami hingga saling tumpang tindih dalam ruang ini. “Palet Brengsek” ini menjadi upaya FSTVLST untuk menangkap suasana zaman ketika kehidupan manusia semakin sulit dipisahkan dari layar, jaringan, dan budaya digital.

FSTVLST menandai album ketiganya dengan mengganti logo band yang didesain langsung oleh vokalis mereka. Sejak pertama kali kemunculannya, FSTVLST selalu menggunakan logo berupa kombinasi huruf, entah itu jenis wordmark atau lettermark. Pertama kalinya FSTVLST mengeluarkan logo band nya yaitu tahun 2011 dan menjadi satu-satunya logo mereka dengan jenis wordmark, di mana saat itu masih ditulis sebagai “FESTIVALIST” meskipun tidak bertahan lama. Pada tahun yang sama, mereka “merevisi” logo mereka menjadi lettermark dengan menghilangkan semua huruf vokal dari logo sebelumnya sehingga menjadi “FSTVLST” yang sampai saat ini masih dipakai meskipun mengalami perubahan desain. Tercatat sejak 2011 hingga 2026 ini, FSTVLST sudah mengalami lima kali perubahan desain logonya. Namun, yang menarik adalah dua logo terakhir tahun 2020 dan 2026 didesain langsung oleh sang vokalis, Farid Stevy melalui hand lettering yang digambar menggunakan spidol di bukunya. Logo FSTVLST pada album ketiga ini menggunakan gaya huruf serif yang khas dengan ujung setiap hurufnya yang tajam kemudian di modifikasi sedemikian rupa oleh Mas Farid.

Perubahan identitas visual tersebut agaknya menajdi salah satu bagian dari perubahan yang juga terasa dalam karya musik FSTVLST. Album ketiga ini jika didengarkan dengan membandingkan karya-karya FSTVLST bahkan Jenny, tentu sangat berbeda. Bagi para pendengar FSTVLST sejak album pertama hingga kedua, bahkan saat namanya masih Jenny dengan album “Manisfesto”, tentu “Paradoks Diametral” ini merupakan hal yang nampak begitu berbeda dengan identitas FSTVLST sebelumnya yang masih kental dengan nuansa garage rock ala The Libertines hingga The Strokes. FSTVLST di album ketiga ini jika bisa dikatakan begitu eksperimental dengan memainkan musik dengan nuansa yang baru dan tetap mempertahankan ciri khas atau identitas mereka. Hal ini terlihat dari begitu melimpahnya aransemen yang digunakan dalam setiap track di album ketiga ini dibandingkan dengan album-album FSTVLST bahkan Jenny sebelumnya. Contohnya, nuansa baru yang menurut saya paling terasa terdapat pada Track III.I berjudul “Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.)”. Saat pertama kali mendengarkannya, lagu ini terasa seperti opening sebuah film dengan nuansa megah. Liriknya juga mengutip dan mengingat kembali sejumlah judul hingga lirik dari karya mereka sebelumnya, sesuai dengan subjudulnya yang menggunakan istilah dalam sistem rujukan akademik untuk merujuk sumber yang telah disebut sebelumnya. Selain itu, ada Track III.XI berjudul “Poli Fono Foto Fantasi” yang kental dengan sentuhan elektronik, terutama dari permainan suara dan ritmenya yang terasa sangat berbeda dari lagu-lagu mereka sebelumnya yang begitu raw dan mungkin menjadi lagu FSTVLST dengan eksplorasi paling liar dan berani.

Identitas musik FSTVLST yang baru dalam album “Paradoks Diametral” tentu tidak lepas salah satunya dari peran Iga Massardi yang menjadi produser membersamai Roby Setiawan. Frontman Barasuara itu turut menambah banyak eksplorasi di album ini. Corak musikal yang telah menjadi ciri khasnya sejak bermusik bersama The Trees and The Wild pada album Rasuk, lalu ia kembangkan ketika membentuk Barasuara, kemudian dialkulturasikan menjadi lanskap musikal dalam album “Paradoks Diametral” FSTVLST. Namun alih-alih menyebutnya perbedaan, saya lebih suka menyebutnya variasi, suatu upaya untuk menjelajahi rupa musik mereka. Sebagaimana dilakukan oleh “role model” mereka, The Strokes yang juga memperluas identitas musikal mereka dari garage rock pada album pertama, “Is This It”, menuju eksplorasi musik yang lebih luas pada rilisan-rilisan berikutnya, teturama di album “The New Abnormal”. Barangkali juga seperti itulah yang dilakukan FSTVLST dalam album “Paradoks Diametral” ini. Proses pembentukan album ini yang tentunya tidak lepas dari relfeksi dan eksplorasi baik dari segi musikal hingga penulisan lirik oleh para personil hingga seluruh pihak terlibat yang kemudian di otak-atik-kan hingga terciptalah 12 karya musik dengan membawa karakter khas-nya tanpa meninggalkan identitas FSTVLST itu sendiri.

Album ketiga FSTVLST ini dinamai dengan “Paradoks Diametral”. Sebuah frasa yang saya sendiri baru mendengarnya meskipun sedikit banyak pernah mendengarnya sebagai kata yang terpisah. Paradoks sendiri menggambarkan keadaan ketika dua unsur (pernyataan, situasi, atau gagasan) yang saling bertentangan (kontradiksi internal) dalam satu sistem, tetap dapat muncul, berjalan, atau dianggap benar secara bersamaan. Sedangkan “Diametral” mengacu pada kata “diameter”, yaitu sebuah garis bentang yang melewati pusat lingkaran dan mempertemukan dua titik yang saling berseberangan. Titik berseberangan inilah yang kemudian disebut sebagai diametral, suatu unsur yang memiliki hubungan atau sifat berlawanan satu sama lain. Apabila dua kata ini dirangkai menjadi satu, Paradoks Diametral berarti cara memandang suatu situasi bahwa dua hal yang saling bertentangan atau berkontradiksi justru akan selalu hadir secara bersamaan dalam suatu realitas dan menegaskan keberadaannya satu sama lain. Padahal, kontradiksi lazim dipahami sebagai hubungan yang saling meniadakan, mati dan hidup contohnya. Jika digunakan untuk menjelaskan contoh tersebut, melalui (katakanlah) “perspektif” Paradoks Diametral, barangkali FSTVLST ingin melihat bahwa konsep kematian itu berarti karena konsep kehidupan itu sendiri ada dan berlaku. Begitu pula konsep kebersamaan yang menjadi berarti dan bisa dipahami karena selalu dibayangi oleh kemungkinan akan adanya perpisahan. Lewat album ketiga ini, FSTVLST ingin menempatkan dirinya dan ‘mereka yang merasa serupa’ tidak akan pernah bisa berada di satu sisi saja, tetapi melebur dalam ruang-ruang “antara”, tempat segala pertentangan masih menemukan pantulannya.

Pasca merilis album ketiga mereka, FSTVLST menancapkan kembali jejaknya di Solo untuk kedua kalinya. Pada perjalanan kelimanya, PROJEK-D untuk pertama kalinya menghadirkan FSTVLST sebagai salah satu guest star. Penampilan FSTVLST memang patut dinantikan, mengingat tiap aksi panggung mereka jarang berjalan tanpa kejutan. Apakah materi baru mereka dalam Paradoks Diametral akan berkumandang (lagi) di Kota Bengawan atau justru mereka membawakan karya karya populer sebelumnya hingga yang jarang dimainkan Setiap kejutan FSTVLST selalu menemukan cara untuk dirayakan oleh para pendengarnya. Barangkali disitulah esensi PROJEK-D menemukan tempatnya, bahwa musik itu hidup tak lagi sekadar tentang figur yang berdiri di atas panggung, melainkan tentang energi kolektif yang tumbuh di bawah itu semua. Selain FSTVLST, banyak musisi lain yang juga siap memberikan kejutannya sendiri, diantaranya yaitu ada The Jeblogs yang akan menampilkan set spesialnya yaitu album “Sambutlah” yang menjadi salah satu tonggak utama yang mengantarkan mereka sebagai band yang dikenal seperti sekarang. Lalu ada juga salah satu Band Tuan Rumah dengan nuansa garage rock, Barmy Blokes yang akan berkolaborasi dengan band Catzy dengan energi khas pop punk dan hardcore-nya. Sementara itu Down for Life juga akan berkolaborasi dengan seorang musisi atau bahkan band yang masih ditutup tirainya oleh pihak PROJEK-D untuk menjadi penampil kejutan.

PROJEK-D Vol. 5 kali ini sedikit berbeda dengan babak sebelumnya yang berjalan selama dua hari. Pada edisi kelimanya PROJEK-D merangkum rentang waktu penyelenggaraannya menjadi satu hari dengan menghadirkan empat panggung untuk dirayakan oleh para hadirinnya melalui panggung Maduswara, Wirama, Sriwedari, dan Guyonlaaah yang masing-masing memiliki jiwanya sendiri. Maduswara memfasilitasi kebutuhan akan keheningan emosional melalui kedalaman lirik dan melodi yang penuh suasana tenang. Sebaliknya, panggung Wirama menjadi sebuah arena pelepasan penat, di mana seluruh beban pikiran diajak lebur menjadi energi untuk bergerak dan berekspresi sebebas bebasnya. Panggung Sriwedari disiapkan sebagai titik jeda yang menawarkan kehangatan dan harmoni di tengah hiruk pikuk festival. Sementara Guyonlaaah, seperti namanya, meruntuhkan jarak kaku antara panggung dan penonton melalui pendekatan yang jenaka, menegaskan bahwa hiburan tidak selalu harus ditanggapi dengan kening berkerut. Keempat jiwa ini menjadikan PROJEK-D Vol. 5 sebagai sebuah ekosistem perayaan yang saling melengkapi, para pengunjung diberi kebebasan penuh untuk memilih bagaimana mereka ingin merayakan hari mereka dan memproses emosinya sendiri. Bagaimanapun, musik adalah milik mereka yang mendengarkan, merasakan, dan menjadikannya bagian dari pengalaman mereka sendiri. Sebab, ketika musik telah dimainkan di atas panggung, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi milik mereka yang menciptakannya, tetapi juga mereka yang datang untuk mendengar, bernyanyi, bergerak, dan merayakannya bersama-sama.